Rabu, 12 Juli 2017

Mengapa aku seorang Perempuan (PART II)

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Aku marah kepada diriku setiap hari, atas ketidakadagunaanku semasa ini, aku hanya menunggu, mendengarkan, dan menaati. Apa memang harus seperti itu, agar aku menjadi manusia yang beradab untuk menjaga baik predikat keperempuananku? Aku seringkali menghela napas panjang-panjang. Karena kejenuhanku pada kegiatan yang berulang kali terjadi tanpa perubahan, tanpa adanya target yang ingin ku panah tetap sasaran. Kadang aku menggelengkan kepala, aku ini kenapa? Kenapa tak ada sedikitpun ku perbuat? Saat itu rasa-rasanya, ada yang ingin lompat dari kepalaku, berlari lalu pergi; ide-ideku.
Aku merasa jengah pada keadaan yang membuatku dunguh, pada puji-puja mereka yang terlalu berlebihan dilayangkan kepadaku. Tiap hari mendengar bualan yang mengatakan kebaikan namun dalam dadanya tak merasa demikian. Ah, manusia memang dari dulu memang seperti itu. Mengapa aku baru merasa risih sekarang?
Aku mencoba belajar bagaimana cara mensyukuri apa yang sudah menjadi bagianku, tapi aku gagal karena tak tahu harus mencoba dari mana.

Aku mungkin kurang kreatif, aku tak bisa menghidupkan warna sarangku. Putih ya putih. Hijau ya hijau. Tak ada yang harus berubah. Seperti pemikiran mereka. Bukan aku. Ketika aku siap untuk berubah selalu ada ketuk yang menghentikan detak. Aku mati, sebelum ku tahu bunyi itu apa.

Tidak ada komentar: