Aku marah kepada diriku setiap hari, atas ketidakadagunaanku
semasa ini, aku hanya menunggu, mendengarkan, dan menaati. Apa memang harus
seperti itu, agar aku menjadi manusia yang beradab untuk menjaga baik predikat
keperempuananku? Aku seringkali menghela napas panjang-panjang. Karena kejenuhanku
pada kegiatan yang berulang kali terjadi tanpa perubahan, tanpa adanya target
yang ingin ku panah tetap sasaran. Kadang aku menggelengkan kepala, aku ini
kenapa? Kenapa tak ada sedikitpun ku perbuat? Saat itu rasa-rasanya, ada yang
ingin lompat dari kepalaku, berlari lalu pergi; ide-ideku.
Aku merasa jengah pada keadaan yang membuatku dunguh, pada
puji-puja mereka yang terlalu berlebihan dilayangkan kepadaku. Tiap hari
mendengar bualan yang mengatakan kebaikan namun dalam dadanya tak merasa
demikian. Ah, manusia memang dari dulu memang seperti itu. Mengapa aku baru
merasa risih sekarang?
Aku mencoba belajar bagaimana cara mensyukuri apa yang sudah
menjadi bagianku, tapi aku gagal karena tak tahu harus mencoba dari mana.
Aku mungkin kurang kreatif, aku tak bisa menghidupkan warna
sarangku. Putih ya putih. Hijau ya hijau. Tak ada yang harus berubah. Seperti
pemikiran mereka. Bukan aku. Ketika aku siap untuk berubah selalu ada ketuk
yang menghentikan detak. Aku mati, sebelum ku tahu bunyi itu apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar