Siapa
yang akan peduli pada daun kering yang rapuh
Siapa
yang akan menangisi senja yang pulangnya lebih cepat
Siapa
yang akan terpukul atas kepergian burung yang tak pernah ia pelihara
Tak
ada yang terluka atas apa yang bukan miliknya
Tak
ada yang akan rela dirinya menyia-yiakan waktu memikirkan atas apa yang tak ia
ingin ributkan
Tak
ada, kecuali perkaranya sendiri.
Pada
kesekian kalinya, banyak yang terlewatkan, banyak yang dirasakan hati atas
sebuah pengabaian
Pada
kondisi wajar, beberapa orang akan memilih untuk mengabaikan rasa tak peduli
seseorang pada dirinya, karena ia tak lagi ingin merasa miskin atas apa yang
disisakan tunggu. Sebab tunggu bagi mereka ialah sesuatu yang takkan mereka
dapatkan. Mereka akan mencoba diperuntungan yang lain, menggantung ingin pada
pundak yang bersedia memberikan sebuah pengabulan. Bagi mereka, waktu ialah
sebuah kesembuhan dan penemuan lainnya sampai ia mereka begitu tepat untuk
berhenti.
Namun
sebagian orang akan merasa langit seketika runtuh, nestapa seolah sedang senang
mengurung dirinya. Terasa ia sedang diasingkan jauh dari peduli apalagi sentuh
sebuah kasih. Di kepalanya tumbuh pohon kesepian yang makin meninggi dan penuh
cabang tanpa ampun menghujamnya dalam kesendirian. Baginya tak ada lagi pinta,
tak lagi ada bintang yang ia harap jatuh mengabulkan mau. Ia pikir menunggu
adalah sebuah perubahan.Ia menantikan apa yang ia pikir akan berujung manis
pada dalam hatinya ia sudah begitu muak untuk menunggu lebih lama. Ia
menguatkan dirinya dengan janji-janji yang padahal tak pernah diucapkan seyakin
ia menerima janji. Ia menumbuhkan rasanya dengan sebuah percaya, walaupun ia diingkari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar