Rabu, 12 Juli 2017

Untuk aku di masa depan.

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*




Selamat pagi, semoga kau benar-benar membacanya di pagi hari di saat kepala sedang waras-warasnya.
Aku mengirimimu surat dari masa lalu untuk mengingatkanmu hal-hal baik dalam susahmu saat ini. Agar kau tak melupakannya kau pernah begitu hancur, pernah sangat rindu, pernah rasanya ingin mati; kau masih ingat siapa yang ada selalu untukmu selain Tuhanmu ? Dia yang sigap menunduk dikala kau meninggi. Dia yang meredam amarah saat kau berapi-api. Dia yang tetap mengulurkan tangannya walaupun kadang kau sombong menolaknya. Semoga kau tak lupa siapa dia, semoga kau masih bersama dia. Aku menulis ini, karena aku yang di masa lalu sekarang teramat khawatir. Kau dan dia sedang berjarak, jauh bagiku. Walaupun sekalinya ia bilang, “Ini jarak tak ada apa-apa dari apa yang kita dapatkan esok, jadi bersabarlah”. Ingatlah mungkin hari ini, aku menulis surat, aku sedang dalam keadaan “baik”, dalam keadaan rindu yang pelihara dengan sabar. Aku tak ingin kau melepaskan dia, maka berhentilah kejam kepadanya. Berhentilah memarahinya karena ia terlambat mengabarimu, berhentilah mencurigainya, berhentilah memaksanya melakukan yang ia tak ingin lakukan. Cintailah ia sebaik ia mencintaimu.
Jangan terlalu keras padanya, tapi sesekali tak apa jika memang dia sedang menyebalkan. Namun kau harus ingat, jangan membencinya, walau kelak ia akan mengabaikan ocehanmu, menutup telinganya atas tangismu, atau pergi karena keributanmu. Ingatlah jangan sesekali pergi untuk meninggalkannya.
Aku takut ia pada akhirnya tak mengejarmu, tak mengingatmu atau tak memperdulikanmu, titik dimana ia akan lelah dan menyerah padamu. Padamu yang sebenarnya tak ada apa-apanya bagiku yang sekarang. Entah apa yang terjadi dimasa depan, kau sudah menjadi lebih baik, atau lebih buruk dariku. Jangan pernah menghardiknya dengan kepergian. Mungkin saja ia akan benar-benar meninggalkan karena tak betah atau karena ia merasa kau terlalu memberatkan langkahnya.
Lantas kau sudah berubah? Jika bukan untuknya perubahan itu, setidaknya kau berubah untukmu. Kau akan menjadi tua, menjadi seorang ibu, menjadi tempat lahirnya kesabaran-kesabaran baru. Bukan seorang ibu yang pemarah. Itulah pintaku dari masalalu, kau harus menjadi yang berbeda sekarang dari yang dulu. Sebab, kau harus mencontohkan yang baik, mengajari anak-anakmu kesabaran yang tak henti, menumbuhkan kesederhanaan. Bersamanyalah itu adalah yang terbaik. Sebab ialah rumah yang menenangkan bagi keluargamu kelak. Percayalah, sekalipun aku belum tahu apa yang terjadi esok, aku yakin padanya.
Aku tahu, aku yang akan datang mungkin akan terluka entah karena dia atau sebabnya apa. Tapi ku mohon jangan coba-coba kau melarikan diri untuk jatuh cinta kepada bukan dia. Jatuh cinta memang mudah, menggantikan dia mungkin kau bisa. Sebab saat kau jatuh cinta kau akan lupa tentang dia, kau lupa rasa sakitmu dan kau lupa bahwa kau pernah begitu memperjuangkannya. Setiap orang akan selalu bisa digantikan posisi dan kenangannya. Lalu akan begitu mudah terlupakan. Aku tak ingin kau begitu. Jika kau ingin jatuh cinta, jatuh cintalah padanya. Ia akan tahu bagaimana membuat terguguh hingga mau. Semoga suratku belum terlambat, kau belum menjadi bodoh dengan memperlakukannya tidak menyenangkan setiap hari. Ku harap kau dan dia bahagia lalu sudah mampu mengubur jarak. Ku harap ia masih bisa kau ajak becanda, semoga ia tak terlalu banyak tumbuh dewasa. Semoga ia, tak mengabaikanmu lagi, semoga ia tak membiasakanmu untuk selalu sendiri, semoga ia tanggap atas diammu, lalu semoga ia sudah sedia mengenalkanmu pada dunianya. Semoga iapun lebih baik untukmu. Semoga. Namun, bagaimanapun dia. Ia masih yang terbaik bagiku. Semoga kelakpun begitu. Aku mencintaimu, diriku.

Aku akan mengirimimu surat, lagi.

Tidak ada komentar: