Selamat
pagi, semoga kau benar-benar membacanya di pagi hari di saat kepala sedang
waras-warasnya.
Aku
mengirimimu surat dari masa lalu untuk mengingatkanmu hal-hal baik dalam
susahmu saat ini. Agar kau tak melupakannya kau pernah begitu hancur, pernah
sangat rindu, pernah rasanya ingin mati; kau masih ingat siapa yang ada selalu
untukmu selain Tuhanmu ? Dia yang sigap menunduk dikala kau meninggi. Dia yang meredam
amarah saat kau berapi-api. Dia yang tetap mengulurkan tangannya walaupun
kadang kau sombong menolaknya. Semoga kau tak lupa siapa dia, semoga kau masih
bersama dia. Aku menulis ini, karena aku yang di masa lalu sekarang teramat
khawatir. Kau dan dia sedang berjarak, jauh bagiku. Walaupun sekalinya ia
bilang, “Ini jarak tak ada apa-apa dari apa yang kita dapatkan esok, jadi
bersabarlah”. Ingatlah mungkin hari ini, aku menulis surat, aku sedang dalam
keadaan “baik”, dalam keadaan rindu yang pelihara dengan sabar. Aku tak ingin
kau melepaskan dia, maka berhentilah kejam kepadanya. Berhentilah memarahinya
karena ia terlambat mengabarimu, berhentilah mencurigainya, berhentilah
memaksanya melakukan yang ia tak ingin lakukan. Cintailah ia sebaik ia
mencintaimu.
Jangan
terlalu keras padanya, tapi sesekali tak apa jika memang dia sedang
menyebalkan. Namun kau harus ingat, jangan membencinya, walau kelak ia akan
mengabaikan ocehanmu, menutup telinganya atas tangismu, atau pergi karena
keributanmu. Ingatlah jangan sesekali pergi untuk meninggalkannya.
Aku
takut ia pada akhirnya tak mengejarmu, tak mengingatmu atau tak
memperdulikanmu, titik dimana ia akan lelah dan menyerah padamu. Padamu yang
sebenarnya tak ada apa-apanya bagiku yang sekarang. Entah apa yang terjadi
dimasa depan, kau sudah menjadi lebih baik, atau lebih buruk dariku. Jangan pernah
menghardiknya dengan kepergian. Mungkin saja ia akan benar-benar meninggalkan
karena tak betah atau karena ia merasa kau terlalu memberatkan langkahnya.
Lantas
kau sudah berubah? Jika bukan untuknya perubahan itu, setidaknya kau berubah untukmu.
Kau akan menjadi tua, menjadi seorang ibu, menjadi tempat lahirnya
kesabaran-kesabaran baru. Bukan seorang ibu yang pemarah. Itulah pintaku dari
masalalu, kau harus menjadi yang berbeda sekarang dari yang dulu. Sebab, kau
harus mencontohkan yang baik, mengajari anak-anakmu kesabaran yang tak henti,
menumbuhkan kesederhanaan. Bersamanyalah itu adalah yang terbaik. Sebab ialah
rumah yang menenangkan bagi keluargamu kelak. Percayalah, sekalipun aku belum
tahu apa yang terjadi esok, aku yakin padanya.
Aku
tahu, aku yang akan datang mungkin akan terluka entah karena dia atau sebabnya
apa. Tapi ku mohon jangan coba-coba kau melarikan diri untuk jatuh cinta kepada
bukan dia. Jatuh cinta memang mudah, menggantikan dia mungkin kau bisa. Sebab
saat kau jatuh cinta kau akan lupa tentang dia, kau lupa rasa sakitmu dan kau
lupa bahwa kau pernah begitu memperjuangkannya. Setiap orang akan selalu bisa
digantikan posisi dan kenangannya. Lalu akan begitu mudah terlupakan. Aku tak
ingin kau begitu. Jika kau ingin jatuh cinta, jatuh cintalah padanya. Ia akan
tahu bagaimana membuat terguguh hingga mau. Semoga suratku belum terlambat, kau
belum menjadi bodoh dengan memperlakukannya tidak menyenangkan setiap hari. Ku
harap kau dan dia bahagia lalu sudah mampu mengubur jarak. Ku harap ia masih
bisa kau ajak becanda, semoga ia tak terlalu banyak tumbuh dewasa. Semoga ia,
tak mengabaikanmu lagi, semoga ia tak membiasakanmu untuk selalu sendiri,
semoga ia tanggap atas diammu, lalu semoga ia sudah sedia mengenalkanmu pada dunianya.
Semoga iapun lebih baik untukmu. Semoga. Namun, bagaimanapun dia. Ia masih yang
terbaik bagiku. Semoga kelakpun begitu. Aku mencintaimu, diriku.
Aku
akan mengirimimu surat, lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar