Rabu, 16 April 2014

NIRWANA

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*



Lalu?

Tanganmu menggengam lembut jari-jariku yang mungil; sembari memandu langkah, semakin banyak langkah yang terarah semakin terasa sekali bagaimana semesta meniupkan sejuk disekujur tubuh. Hingga saat langkahmu terhenti dan tanganmupun melepaskan jari-jariku, aku berhenti melangkah. Tiba-tiba kau kejutkan aku dari belakang dengan kedua tanganmu berada di pundakku. Dan kaupun berbisik tepat ditelinga kananku, “Tetaplah seperti itu, nona. Biarkan matamu terkatup sebentar saja. Rasakan bagaimana semesta membisikkan keanggunannya untukmu yang indah”.
          Aku terdiam dan tak banyak tanya.
Entah dari mana alunan merdu ini, simfoni yang begitu lantang menggetarkan jiwa, dan dari mana semerbak aroma manis ini datang, lirih hatiku. Rasa penasaran yang hebat menguasai diri. “Apakah sekarang aku boleh membuka mata?”. “Tentu”, sambutmu.
Dan akupun membuka mata, karna terlalu lama mata tertutup, korneaku belum cukup menerima cahaya, sehingga yang terlihat masih samar-samar. Setelah itu, aku melihat sosokmu menebar senyum, senyum yang kugilai itu. Kemudian aku berjalan melihat sekitaranku, seketika itu mulutku disumpal oleh takjub dan kagum yang meraja. Sehingga yang terlihat disekeliling telah meruntuhkan keangkuhan diriku. Sungguh, Penguasa adalah seniman yang tak tertandangi. Tak ada aksara yang tepat menggambarkan apa yang tertangkap oleh kedua bola mataku. Aku bertanya-tanya tempat ini sedang bermusim apa. Tapi bertanya pada siapa? Sosok yang berdiri disanakah?. Kau yang sedari tadi memperhatikanku diam berdecak kagum, berinisiatif mengajakku menuju ujung dari negeri entah. Diujung negeri entah itu, kau dan aku berdiri menikmati suguhan pesona  yang suci, tak terjamah.
Tepat disampingku, sosok lelaki yang begitu tenang dalam bawaannya, begitu damai tatapannya, dan begitu lembut senyumnya. Sosok yang menghadirkan letupan-letupan ajaib di dada dan seringkali menjelma tingkah menjadi  tak wajar, gelagat yang dinamai gugup. Setelah itu, kau merengkuh tanganku, mengajakku pergi dari sana.
....
Lalu kau menyapaku dan berkata,”Inilah negeri entah yang dinamai nirwana, kemari duduk bersamaku disinggasana, karna semesta telah berbaik hati menjamu kita”.
“Baiklah tuan. Seperti yang ku janjikan, aku akan menjawab tanya yang kau bingkis manis nan pesona saat kita berada  dalam labirin 7 warna itu”.
Aku menghela nafas, mengusung keberanian dan menyingkirkan jauh-jauh gugup yang menyelimuti, dan berkata.
“Terima kasih telah datang, membalut luka, menyematkan mahkota cantik, memperlihatkan aku labirin 7 warna, dan kini nirwana dengan sejuta pesonanya. Namun bukan beralasankan itu. Tapi sesungguhnya kesabaranmulah yang menumpahkan angkuhnya hatiku. Tuan, tapi entah bagaimana lagi, maaf”.
“Jadi, tidak inginkah dirimu menua bersamaku?”, sambutmu.
“ Iya, tidak. Tidak mungkin lagi aku melangkah jauh darimu. Aku ingin mengisi celah-celah kosong jemarimu, merebahkan lelah didadamu, menjalin langkah yang senada, melukis kisah-kisah fiktif menjadi nyata dan tidak hanya tentang itu. Masih banyak yang ingin ku ketemui bersamamu, negeri kepedihan dan negeri lainnya hingga menua”, jawabku yang kuiringi dengan senyum.
“TERIMA KASIH”, sambutmu sambil mencubit pipiku.
Sungguh Penguasa begitu Maha dengan rencana-rencana indahnya.
Lalu senjata kepedihan mana yang mampu menembus euforia ini, tak ada..


Ps : Penulis membutuhkan kritik dan saran dari pembaca setia. 1 Hal lagi, setelah membaca ini, tolong langsung mengirim pesan untuk penulis tentang perasaan yang dirasa. 
 

Tidak ada komentar: