Teruntuk
tuan, yang sedang sendu bertengger dengan ribuan tanya. Bersabarlah tuan,
karena hanya waktu yang akan menyudahi
tanya yang menggeliat itu, dan berharap aku yang akan berusaha menenangkan kecanggunganmu.
Aku pernah begitu terkejut hingga begitu menciptakan debar magis dalam
dada ketika nada suaramu sua. Pernah..
Seusai
aku menyerbumu dengan tanya seperti itu..
Bibirmu
yang awalnya memilih terkunci, kini terbuka dan bersua. “Hai Perempuan. Aku
akan menculikmu dan membawamu ke dunia yang tak pernah kau temui, bersabarlah.
Akanku beri kau waktu untuk mengenalku”lirihmu. Sungguh kau buat aku tercengang
oleh cara bicaramu. Entah debar dari mana datang seolah membeludak masuk tanpa
permisi. Kencang dan semakin kencang. Debar yang memberi efek gelagat yang tak
biasa, salah tingkah oleh lirihmu. Sungguh suaramu membuat perasaan kesalku
koyak seketika, suaramu bagaikan nyanyian surga. Mahluk seperti apakah dirimu. Kau
menggenggam tanganku membawaku ke labirin tujuh warna. Dan sang waktupun
mengajarkanku tentangmu, kau bercerita begitu banyak yang terabaikan olehku,
sungguh banyak sekali yang terlewatkan dalam hidupku tentangmu. Hingga dalam
jeda ceritamu kau bertanya, “Kapan aku bisa memilikimu?”.
“Apakah kesabaranmu sudah mendewasa menghadapi
kerasnya dinding sifatku? Tangguhkah dirimu untuk mengalahkan tingkah yang
tidak wajar dalam usia?”tanyaku.
Pertanyaan
yang ku sambut dengan pertanyaan. “Belum waktunya kah?” jawabmu. “Bukan”sambutku.
Aku telah mengenalmu; lelaki yang berparas menyenangkan, lelaki yang tak
mengerti apa yang ada dibenaknya selama ini, lelaki yang membungkus rapat-rapat
rahasia hatinya, lelaki yang begitu tenang dalam bawaannya, lelaki yang sering
lalu lalang dalam keseharianku, lelaki yang tak pernahku tatap begitu dekat, LELAKI yang berbeda dari yang kukira. Sesungguhnya
benakku bertanya, “Mengapa kau harus bertanya tentang waktu, mengapa kau tak
pernah mengungkapkan? Mengapa memilihku, seseorang yang sering melewatkanmu,
mengapa menghampiriku dengan nafas yang tersenggal-senggal, mengapa harus
melihatku terlebih dulu terluka-luka, lebam oleh sepi dan mengobati lukaku.
Lalu apakah aku pantas untukmu setelah aku menghadirkan duka dalam keseharian
karna telah meniadakanmu dalam retina ini, lantas masih pantaskah aku untuk mencairkan
bekumu, meniadakan gelisah, menopang lelahmu sekarang. Pantaskah aku? Perempuan
yang sama sekali tak memiliki bakat dalam membahagiakan”.
Kita
sama-sama terdiam, sama-sama beratapkan sunyi. Tanya yang menari-menari di
kepalaku tentu dengan debar-debar yang semakin tak karuan tanpa ritme yang
pasti. “Hiduplah bersamaku, maukah?”tutur lembutmu disertai senyummu yang
membuatku lupa jika kakiku sedang menginjak dasar labirin. Debarku memuncak, mempercepatkan
langkahku; aku takut terdengar olehmu suara gemuruh dari hati kecilku. “Bawa
aku kesana maka akan kuusaikan tanyamu”kataku.
Kaupun
berlari kecil untuk menyamakan langkah. Tiba-tiba tanganmu menyambutku dan
membawaku lari untuk mengusaikan depa langkah menuju tujuan yang kau ucapkan.
“Bahwa
didalam senyumnya ada surga kecil yang tercipta. Pada tiap tatapannya
tersebutlah dalam retinanya terkandung pelangi . Dan dalam jari-jarinya
berisikan senja yang inginku sentuh dan tak ingin kulepas”.
Ps
:
Tuan,
aku jatuh cinta (lagi) kepadamu. Jangan ada tanya mengapa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar