Sabtu, 05 April 2014

Jangan Ada Tanya ..

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


Teruntuk tuan, yang sedang sendu bertengger dengan ribuan tanya. Bersabarlah tuan, karena hanya waktu  yang akan menyudahi tanya yang menggeliat itu, dan berharap aku yang akan berusaha menenangkan kecanggunganmu.

Aku pernah begitu terkejut  hingga begitu menciptakan debar magis dalam dada ketika nada suaramu sua. Pernah..

          Seusai aku menyerbumu dengan tanya seperti itu..
Bibirmu yang awalnya memilih terkunci, kini terbuka dan bersua. “Hai Perempuan. Aku akan menculikmu dan membawamu ke dunia yang tak pernah kau temui, bersabarlah. Akanku beri kau waktu untuk mengenalku”lirihmu. Sungguh kau buat aku tercengang oleh cara bicaramu. Entah debar dari mana datang seolah membeludak masuk tanpa permisi. Kencang dan semakin kencang. Debar yang memberi efek gelagat yang tak biasa, salah tingkah oleh lirihmu. Sungguh suaramu membuat perasaan kesalku koyak seketika, suaramu bagaikan nyanyian surga. Mahluk seperti apakah dirimu. Kau menggenggam tanganku membawaku ke labirin tujuh warna. Dan sang waktupun mengajarkanku tentangmu, kau bercerita begitu banyak yang terabaikan olehku, sungguh banyak sekali yang terlewatkan dalam hidupku tentangmu. Hingga dalam jeda ceritamu kau bertanya, “Kapan aku bisa memilikimu?”.

“Apakah kesabaranmu sudah mendewasa menghadapi kerasnya dinding sifatku? Tangguhkah dirimu untuk mengalahkan tingkah yang tidak wajar dalam usia?”tanyaku.

Pertanyaan yang ku sambut dengan pertanyaan. “Belum waktunya kah?” jawabmu. “Bukan”sambutku. Aku telah mengenalmu; lelaki yang berparas menyenangkan, lelaki yang tak mengerti apa yang ada dibenaknya selama ini, lelaki yang membungkus rapat-rapat rahasia hatinya, lelaki yang begitu tenang dalam bawaannya, lelaki yang sering lalu lalang dalam keseharianku, lelaki yang tak pernahku tatap begitu dekat, LELAKI  yang berbeda dari yang kukira. Sesungguhnya benakku bertanya, “Mengapa kau harus bertanya tentang waktu, mengapa kau tak pernah mengungkapkan? Mengapa memilihku, seseorang yang sering melewatkanmu, mengapa menghampiriku dengan nafas yang tersenggal-senggal, mengapa harus melihatku terlebih dulu terluka-luka, lebam oleh sepi dan mengobati lukaku. Lalu apakah aku pantas untukmu setelah aku menghadirkan duka dalam keseharian karna telah meniadakanmu dalam retina ini, lantas masih pantaskah aku untuk mencairkan bekumu, meniadakan gelisah, menopang lelahmu sekarang. Pantaskah aku? Perempuan yang sama sekali tak memiliki bakat dalam membahagiakan”.

Kita sama-sama terdiam, sama-sama beratapkan sunyi. Tanya yang menari-menari di kepalaku tentu dengan debar-debar yang semakin tak karuan tanpa ritme yang pasti. “Hiduplah bersamaku, maukah?”tutur lembutmu disertai senyummu yang membuatku lupa jika kakiku sedang menginjak dasar labirin. Debarku memuncak, mempercepatkan langkahku; aku takut terdengar olehmu suara gemuruh dari hati kecilku. “Bawa aku kesana maka akan kuusaikan tanyamu”kataku.

Kaupun berlari kecil untuk menyamakan langkah. Tiba-tiba tanganmu menyambutku dan membawaku lari untuk mengusaikan depa langkah menuju tujuan yang kau ucapkan.

“Bahwa didalam senyumnya ada surga kecil yang tercipta. Pada tiap tatapannya tersebutlah dalam retinanya terkandung pelangi . Dan dalam jari-jarinya berisikan senja yang inginku sentuh dan tak ingin kulepas”.

Ps :
Tuan, aku jatuh cinta (lagi) kepadamu. Jangan ada tanya mengapa..


Tidak ada komentar: