Rabu, 09 April 2014

Lalu?

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*



Hello Tuanku. Oh aku tak mau memanggilmu tuan dalam tulisanku yang ini, karna kamu begitu menyebalkan, menyisakan banyak rindu disepotong senja yang nampak sore ini. Seperti kataku sebelumnya, senja tanpamu, hanya berteriakkan sesak.

Hingga tiba pada malam yang hanya terlihat sepi tanpa cahaya yang enggan berteman. Mereka memilih menghilang, berkhianat dengan yang lain.

“Bahwa didalam senyumnya ada surga kecil yang tercipta. Pada tiap tatapannya tersebutlah dalam retinanya terkandung pelangi . Dan dalam jari-jarinya berisikan senja yang inginku sentuh dan tak ingin kulepas”.

Sepanjang perjalanan, aku tak pernah usai berdecak kagum oleh labirin itu. Bagaimana tidak, lantai labirin menyeruakkan warna-warna pelangi dan berdindingkan batu safir yang membiaskan cahaya keseluruh pelosok serta kau manjakan aku dengan senyummu yang begitu menenangkan menyapu cemasku dan mengusir bising sepi yang merasa paling berkuasa. Sudah banyak depa yang telah kita jejaki, oleh karna itu jangan tanyakan tentang debarku, debar ini sudah bertalu-talu memukul dada, karna genggamanmu begitu mengekalkan debar, debar yang betah berlama-lama menjadi tamu. Tak kusangka dari bibirmu terucap, “Seberapa pentingkah ikatan itu?”. Tak sempat aku menyambutmu dengan jawab, kau terlebih dahulu bertanya (lagi).
“Dan apakah aku mampu merengkuhmu yang dibatasi  pagar-pagar besi yang tinggi itu?”, tanyamu.
“Selama ini pernahkah kau bermimpi menggapai senja? Jika ia, maka hentikan mimpimu, singgirkan ia dalam nuranimu. Senja yang tak berpagar, tak beranak tangga, ataupun tak memberi muara untuk menuju senja yang begitu merona bagi pemujanya. Tak ada kesempatan sama sekali untuk menggapainya, selain menunggu dan mengintipnya dicakrawala, dikala sore. Aku berbeda, karna akan ada kesempatan dan siasat yang Tuhan selipkan di bawah bantalmu seusai kau bangun dari mimpi”, sambutku.
“Maaf jika aku terlalu banyak berceloteh, semoga hatimu tidak meracau mendengarnya”, lanjutku.
Kau tersenyum, dan berkata, “Kau selalu bisa menghadirkan senyum”.

Seusai percakapan manis tadi, kitapun menertawakan diri kita sendiri. Meronalah menghantam pipi kita dibawah langit batu permata. Tak pernah kutemui bahagia semanis hari ini. Itu karna, kamu. Lelaki yang berwajah menyenangkan.. Dan kau tiba-tiba saja hentakkan cubitan dipipiku agar aku segera menghentikan lamunan. Dan kau tesenyum (lagi) melihat wajahku kesal karna cubitan tadi. 

Tapak kaki kita telah banyak kita tinggalkan dibelakang. Dan ditiap tapak langkah ada kenang di sana -

...................................



Dan ketika cahaya di ujung labirin terlihat, kau berkata;
“Tutup matamu yang teduh itu, nona”.
“Ada apa?”, balasku dengan menatapmu kebingungan.

Lalu, sebelum berkata lagi. Kau mengedipkan matamu yang binar itu, mengisyaratkan padaku untuk mengiyakan titahmu. Tanpa ba bi bu, aku menutup mata menghalangi cahaya masuk ke retinaku. Hanya tangan dan suaramu sebagai petunjuk arah langkahku saat itu.
Lalu?


Ps: Maaf  jika lancang dan terlampau sering mensenandungkan rindu lalu meniang-niangkannya ditelingamu –
Aku sesak oleh rindu, tertanda

Perempuanmu..

 

Tidak ada komentar: