Hello
Tuanku. Oh aku tak mau memanggilmu tuan dalam tulisanku yang ini, karna kamu begitu
menyebalkan, menyisakan banyak rindu disepotong senja yang nampak sore ini.
Seperti kataku sebelumnya, senja tanpamu, hanya berteriakkan sesak.
Hingga
tiba pada malam yang hanya terlihat sepi tanpa cahaya yang enggan berteman. Mereka
memilih menghilang, berkhianat dengan yang lain.
“Bahwa
didalam senyumnya ada surga kecil yang tercipta. Pada tiap tatapannya
tersebutlah dalam retinanya terkandung pelangi . Dan dalam jari-jarinya
berisikan senja yang inginku sentuh dan tak ingin kulepas”.
Sepanjang perjalanan,
aku tak pernah usai berdecak kagum oleh labirin itu. Bagaimana tidak, lantai
labirin menyeruakkan warna-warna pelangi dan berdindingkan batu safir yang
membiaskan cahaya keseluruh pelosok serta kau manjakan aku dengan senyummu yang
begitu menenangkan menyapu cemasku dan mengusir bising sepi yang merasa paling
berkuasa. Sudah banyak depa yang telah kita jejaki, oleh karna itu jangan
tanyakan tentang debarku, debar ini sudah bertalu-talu memukul dada, karna
genggamanmu begitu mengekalkan debar, debar yang betah berlama-lama menjadi tamu.
Tak kusangka dari bibirmu terucap, “Seberapa pentingkah ikatan itu?”. Tak
sempat aku menyambutmu dengan jawab, kau terlebih dahulu bertanya (lagi).
“Dan apakah aku
mampu merengkuhmu yang dibatasi pagar-pagar
besi yang tinggi itu?”, tanyamu.
“Selama ini
pernahkah kau bermimpi menggapai senja? Jika ia, maka hentikan mimpimu,
singgirkan ia dalam nuranimu. Senja yang tak berpagar, tak beranak tangga,
ataupun tak memberi muara untuk menuju senja yang begitu merona bagi pemujanya.
Tak ada kesempatan sama sekali untuk menggapainya, selain menunggu dan mengintipnya
dicakrawala, dikala sore. Aku berbeda, karna akan ada kesempatan dan siasat
yang Tuhan selipkan di bawah bantalmu seusai kau bangun dari mimpi”, sambutku.
“Maaf jika aku
terlalu banyak berceloteh, semoga hatimu tidak meracau mendengarnya”, lanjutku.
Kau tersenyum, dan
berkata, “Kau selalu bisa menghadirkan senyum”.
Seusai percakapan
manis tadi, kitapun menertawakan diri kita sendiri. Meronalah menghantam pipi
kita dibawah langit batu permata. Tak pernah kutemui bahagia semanis hari ini.
Itu karna, kamu. Lelaki yang berwajah menyenangkan.. Dan kau tiba-tiba saja hentakkan
cubitan dipipiku agar aku segera menghentikan lamunan. Dan kau tesenyum (lagi)
melihat wajahku kesal karna cubitan tadi.
Tapak kaki kita telah banyak kita tinggalkan dibelakang. Dan ditiap tapak langkah ada kenang di sana -
...................................
Dan ketika cahaya di ujung labirin terlihat, kau berkata;
“Tutup matamu
yang teduh itu, nona”.
“Ada apa?”,
balasku dengan menatapmu kebingungan.
Lalu, sebelum
berkata lagi. Kau mengedipkan matamu yang binar itu, mengisyaratkan padaku
untuk mengiyakan titahmu. Tanpa ba bi bu, aku menutup mata menghalangi cahaya
masuk ke retinaku. Hanya tangan dan suaramu sebagai petunjuk arah langkahku
saat itu.
Lalu?
Ps:
Maaf jika lancang dan terlampau sering mensenandungkan
rindu lalu meniang-niangkannya ditelingamu –
Aku
sesak oleh rindu, tertanda
Perempuanmu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar