Maaf
untuk kali ini jika akan ada sayup-sayup getir dalam tulisan ini..
Apakah
hari ini tak bersahabat dengan kita?
Apa
kabar kau malam ini, sosok yang berbeda dari biasanya.
Apakah
sedang ada pekat yang merasukimu? Atau mungkin
sesuatu sedang mengusik tenangnya lautan hatimu? Sungguh tuan, diammu begitu
memilukanku. Bibir ini begitu keluh untuk menyapa dinginnya tatapmu, itukah
dirimu? Dirimu yang membekukan..
Tuan,
bukan maksud hati mengepungmu dengan sebilah tanya. Namun seorang perempuanmu
ini tak mampu membaca guratan ekspresi dari parasmu yang pesona itu. Jika kau
berkenan, sajikan aku aksara yang berisikan jawaban lebih dalam mengenaimu. Sesuatu
yang terkatup dalam benakmu. Apasaja yang belum terbaca olehku. Apa saja yang
terlewatkan dariku. Lembar atau halaman ke berapa?
Jika
kebingungan adalah jawab dari diammu, maka sungguh akulah orang yang ingin
berlari mendekap gelisahmu, meredakan resah yang menggeliat. Sungguh, aku
ingin..
Tapi
sekali lagi, langkahku yang tak becus ini tertahan. Persendianku tiba-tiba mati
begitu saja. Terlalu angkuh diri ini. Tak ingin menyapa, tak ingin mendekap,
dan tak ingin bertanya.
Lelakiku,
maaf untuk secercah catatan busuk ini. Maaf untuk rasa penasaran yang tak bernyali,
sungguh aku bersalah atas perasaan ingin tahu yang singgah. Namun tenanglah,
aku baik-baik saja. Hanya saja aku rindu senyummu..
Senyummu
yang mengindahkan hari dan meniadakan sepi.
Dan
malam ini, hujan.. Gigil kerinduan diam-diam masuk melalui celah-celah
kecil jendelaku..
Mataram ,14
April 2014
Sosok
apatis L
Tidak ada komentar:
Posting Komentar