Selasa, 01 April 2014

Hai, Tuan ..

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*



Hai tuan, hari ini aku sedang menantikan sesuatu darimu, gambaran kecil tentangmu. Oya, hari ini kamu menyebalkan..

Tuan, ini lanjutan kisah dongeng yang tak sempat terpatahkan diwaktu lampau.
Penguasa membingkis kamu  dalam kotak misteri.. Menghadirkan sosokmu dengan sejuta kejut debar. Penguasa menyayangiku dengan segala kesempurnaan dalam kekuranganku.
Usai kau sematkan mahkota cantik, kau kembali tersenyum. Sekali lagi tanpa sua. Akupun tak mengangkat suara, aku mengenalnya.. Akan tetapi, ku tak mengenal yang didalam dirinya. Yang ku tau pasti dalam kesehariannya ia diibaratkan es di kutub sana. Membekukan pesona, meniadakan peduli, dan mengacuhkan asa. Namun aku tak tau jika es itu benar-benar bisa tersenyum. Hati kecilku berbisik tawa, hingga timbul guratan senyum diparasku. Sedari tadipun ia tak melepaskan pandangannya dariku. Entah apa yang tersembunyi dalam ribuan sel berpikirnya.  Ia melihatku tersenyum, sekali lagi ia mengacak-acak barisan helai rambut yang baru saja aku benarkan letaknya.
...
Apakah dia malaikat? Dan aku seorang manusia yang tak paham bahasa malaikat?
Kau tau? Sangat menyebalkan memotret wajahmu yang tersenyum tanpa alasan yang jelas. Sungguh demi planet mars, kau sangat menyebalkan dalam benakku. Sementara kau duduk diantara bebatuan yang persis berada di hadapanku. Aku duduk manis dikursi panjang sembari mengayun-ayunkan kedua kakiku untuk mengenyahkan debar tak karuan. Entah apa yang kita nanti, mungkin tidak, sebenarnya  entah apa yang kau nanti. Mengapa kita tidak menyegerakan langkah ke labirin itu, menyingkirkan depa. Aku menoleh ke arahmu dan ku dapati kau , terlalu banyak hening memelukmu. Senyumpun merunduk perlahan diikuti oleh kepalamu, ada ketakutan yang memayungimu disana. Apa yang harus kukerahkan atas ketidakmengertianku? Karna hanya ada sebab maka adanya akibat. Aku tak paham atas segala sebab, yang ku tau akibat dari sebab; kau yang tiba-tiba datang, membawaku kesini, dan menyematkan mahkota. Aku yang duduk di kursi panjang tersentak menghampirimu, menyapa dan bertanya, “Hai, bolehkah aku sekedar mendengar sapamu? Atau jika kau tak keberatan, beritahu aku tentang sebab kau membawaku? Bila kau malu kepada ilalang, maka berbisiklah”. 
Terdengar kau menghela nafas panjang, mengangkat kepala yang sempat tertunduk, dan bertemu pandang denganku. Oh Penguasa bumi dan langit bisakah kau menghentikan senyum di wajahnya. Diam tanpa suara lagi.”Apakah kamu seseorang malaikat? Oh baiklah. Kenalkan aku hanya seorang manusia biasa dengan kekurangan didalamnya yang tak mengerti bahasamu”.

Aku pernah begitu terkejut  hingga begitu menciptakan debar magis dalam dada ketika nada suaramu sua. Pernah..


PS : Jangan dibaca kalo gak bisa komentar y(es). Salam manis buat yang sipit dan belesung cakep disana..
 

Tidak ada komentar: