Hai
tuan, hari ini aku sedang menantikan sesuatu darimu, gambaran kecil tentangmu.
Oya, hari ini kamu menyebalkan..
Tuan, ini
lanjutan kisah dongeng yang tak sempat terpatahkan diwaktu lampau.
Penguasa
membingkis kamu dalam kotak misteri.. Menghadirkan
sosokmu dengan sejuta kejut debar. Penguasa menyayangiku dengan segala
kesempurnaan dalam kekuranganku.
Usai
kau sematkan mahkota cantik, kau kembali tersenyum. Sekali lagi tanpa sua.
Akupun tak mengangkat suara, aku mengenalnya.. Akan tetapi, ku tak mengenal
yang didalam dirinya. Yang ku tau pasti dalam kesehariannya ia diibaratkan es
di kutub sana. Membekukan pesona, meniadakan peduli, dan mengacuhkan asa. Namun
aku tak tau jika es itu benar-benar bisa tersenyum. Hati kecilku berbisik tawa,
hingga timbul guratan senyum diparasku. Sedari tadipun ia tak melepaskan
pandangannya dariku. Entah apa yang tersembunyi dalam ribuan sel berpikirnya. Ia melihatku tersenyum, sekali lagi ia
mengacak-acak barisan helai rambut yang baru saja aku benarkan letaknya.
...
Apakah dia
malaikat? Dan aku seorang manusia yang tak paham bahasa malaikat?
Kau
tau? Sangat menyebalkan memotret wajahmu yang tersenyum tanpa alasan yang
jelas. Sungguh demi planet mars, kau sangat menyebalkan dalam benakku. Sementara
kau duduk diantara bebatuan yang persis berada di hadapanku. Aku duduk manis
dikursi panjang sembari mengayun-ayunkan kedua kakiku untuk mengenyahkan debar
tak karuan. Entah apa yang kita nanti, mungkin tidak, sebenarnya entah apa yang kau nanti. Mengapa kita tidak menyegerakan
langkah ke labirin itu, menyingkirkan depa. Aku menoleh ke arahmu dan ku dapati
kau , terlalu banyak hening memelukmu. Senyumpun merunduk perlahan diikuti oleh
kepalamu, ada ketakutan yang memayungimu disana. Apa yang harus kukerahkan atas
ketidakmengertianku? Karna hanya ada sebab maka adanya akibat. Aku tak paham
atas segala sebab, yang ku tau akibat dari sebab; kau yang tiba-tiba datang,
membawaku kesini, dan menyematkan mahkota. Aku yang duduk di kursi panjang
tersentak menghampirimu, menyapa dan bertanya, “Hai, bolehkah aku sekedar
mendengar sapamu? Atau jika kau tak keberatan, beritahu aku tentang sebab kau
membawaku? Bila kau malu kepada ilalang, maka berbisiklah”.
Terdengar
kau menghela nafas panjang, mengangkat kepala yang sempat tertunduk, dan bertemu
pandang denganku. Oh Penguasa bumi dan langit bisakah kau menghentikan senyum
di wajahnya. Diam tanpa suara lagi.”Apakah kamu seseorang malaikat? Oh baiklah.
Kenalkan aku hanya seorang manusia biasa dengan kekurangan didalamnya yang tak
mengerti bahasamu”.
Aku pernah begitu terkejut hingga begitu menciptakan debar magis dalam
dada ketika nada suaramu sua. Pernah..
PS : Jangan
dibaca kalo gak bisa komentar y(es). Salam manis buat yang sipit dan belesung
cakep disana..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar