Jumat, 21 Maret 2014

Jika Aku Mentari

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


Aku bosan, membiarkan tangis selalu beradu dan pecah dalam sunyi..
Aku letih, aku tak tau harus bertingkah seperti apa..
Aku muak dengan pemikiran yang tiada henti menghujam otak hingga meninggalkan lebam ..
Ku mohon hentikan langkah gontai tak terarah ini..
Terlalu penat aku dengan segala hal yang tak pasti
Bawa aku lari hingga aku lupa tentang duka..
Bisakah kau membawa aku menghilang dari peredaran , pelan-pelan terkikis seperti pluto.


Jika Aku Mentari (Matahari)

Ribuan atau jutaan ataupun triliun jarak mentari dan es dikutub sana

Tak usah mengarah padaku, cukup rasakan terikku agar kau tak terurai menjadi air, menguap dan tak tersisa sapa mentari

Bagaimana jika pagimu kau temui ia redup tersamarkan megah-megah? Masihkah kau berharap ia semenyenangkan kemarin yang menghangatkanmu? Atau sebaliknya ia membakar pesonamu yang penuh kristal

Kau bilang : Kalaupun suatu masa aku tebakar oleh teriknya, harus bagaimana lagi? Ia lebih tau apa yang lebih baik dan mengapa ia melakukan itu. Sisanya urusanku menikmati terik panasnya dengan cara berbeda yang ia kehendaki

Apa kau mengenal mentari? Semengerti apa kau tentangnya?

Aku tak tau ..
Aku tak tau bagaimana mereka meraih mentari sebelumnya. Aku hanya terbawa bias cahaya sekelilingnya hingga senja, katamu

Jika hanya terbawa, cobalah untuk tenggelam bersama cahayanya diseparuh waktu, karna ketika senja, mentari menutup dirinya dari peredaran. Mengapa? -karna- Ketika ia harus terus bersinar, cahayanya kadang kala mendapat cemooh mereka -Tak tau dimana letak eloknya mentari-

Aku selalu berharap begitu, berharap suatu ketika mentari (matahari) mau menemaniku, menanti senja, menikmati bias jingga dengan semua pesonanya, mengungkap semua asa saat rembulan menggantikannya. Aku berharap... #That hope will be happened (^^) sambutmu

Mentari hanya tau menutup diri (menghilang) TANPA tau cara mengeluh-eluhkan asa. Ia tau kapan ia bersembunyi dan kapan waktu ia muncul. Ia setia pada pagi dari awal semesta tercipta oleh sang Pemilik waktu.
Namun aku tak setulus mentari, masihkah?


Jika yang kau tau , terasa hangat dalam harimu. Lantas ia seharusnya tetap selalu begitu.
Ia begitu mandiri dengan cahayanya, kau tak ingin bertanya kepadanya bahwa tak ada sedikit sapa untuknya. Ia sendiri tak seperti halnya bulan dan bintang yang selalu ku dengar dialognya tiap petang.
Yang ia tau hanya bersinar tanpa ia tahu sinarnya sering mendapatkan cemooh mereka.
Bersinar dan bersinar entah itu sejak kristal embun diujung daun atau hingga pekatnya warna langit.
Tak mengerti, tak tahu, atau pun tak sama sekalli paham kapan ia berkata lelah melalui dua belah bibir semesta.
Tuhan selalu Maha dalam segala hal. Menghadirkan mentari setangguh itu.
Menciptakan kamu sedingin kutub dunia..
Apa kau mengenal senja? Apa kau tau mengapa senja itu ada? Senja itu mentari dibalik peraduannya, senja itu lambang kerinduan, senja itu semanis warnanya.. Senja ada karna ada ribuan malaikat menarikan jingga dicakrawala. Hanya itu tertanggap dalam imajinasiku.
Mentari akan selalu setia pada pagi. Mentari dari awal telah berjodoh dengan pagi. Sedangkan aku, aku tak sesetia mentari. Yang ku tahu, takdir mengajakku berkeliling menjamah tempat yang tepat untuk kutinggali. Salahkah aku jika aku membiarkan diri terbang bersama takdir? Aku hanya ingin, dimana kelak takdir lelah mengajakku berkelana sendiri, dan aku tiba pada tempat terbaik. Kembali ke pemilik lelaki (tertulis pada lauhul mahfudz) yang telah kehilangan tulang rusuknya (AKU yang hilang) dan menyambutku dengan peluk kerinduan yang dalam.

ps : maaf banyak alur yang tidak jelas :))


Tidak ada komentar: