Aku bosan, membiarkan tangis selalu beradu dan pecah dalam sunyi..
Aku letih, aku tak tau harus bertingkah seperti apa..
Aku muak dengan pemikiran
yang tiada henti menghujam otak hingga meninggalkan lebam ..
Ku mohon hentikan langkah gontai tak terarah ini..
Terlalu penat aku dengan segala hal yang tak pasti
Bawa aku lari hingga aku lupa tentang duka..
Bisakah kau membawa aku menghilang dari peredaran , pelan-pelan
terkikis seperti pluto.
Jika Aku
Mentari (Matahari)
Ribuan atau jutaan
ataupun triliun jarak mentari dan es dikutub sana
Tak usah
mengarah padaku, cukup rasakan terikku agar kau tak terurai menjadi air,
menguap dan tak tersisa sapa mentari
Bagaimana jika
pagimu kau temui ia redup tersamarkan megah-megah? Masihkah kau berharap ia semenyenangkan
kemarin yang menghangatkanmu? Atau sebaliknya ia membakar pesonamu yang penuh
kristal
Kau bilang :
Kalaupun suatu masa aku tebakar oleh teriknya, harus bagaimana lagi? Ia lebih
tau apa yang lebih baik dan mengapa ia melakukan itu. Sisanya urusanku
menikmati terik panasnya dengan cara berbeda yang ia kehendaki
Apa kau
mengenal mentari? Semengerti apa kau tentangnya?
Aku tak tau ..
Aku tak tau
bagaimana mereka meraih mentari sebelumnya. Aku hanya terbawa bias cahaya
sekelilingnya hingga senja, katamu
Jika hanya
terbawa, cobalah untuk tenggelam bersama cahayanya diseparuh waktu,
karna ketika senja, mentari menutup dirinya dari peredaran. Mengapa? -karna- Ketika ia harus terus bersinar,
cahayanya kadang kala mendapat cemooh mereka -Tak tau dimana letak eloknya
mentari-
Aku selalu berharap begitu, berharap suatu ketika mentari (matahari) mau
menemaniku, menanti senja, menikmati bias jingga dengan semua pesonanya,
mengungkap semua asa saat rembulan menggantikannya. Aku berharap... #That hope
will be happened (^^) sambutmu
Mentari hanya
tau menutup diri (menghilang) TANPA tau cara mengeluh-eluhkan asa. Ia tau kapan
ia bersembunyi dan kapan waktu ia muncul. Ia setia pada pagi dari awal semesta
tercipta oleh sang Pemilik waktu.
Namun aku tak setulus
mentari, masihkah?
Jika yang kau tau , terasa hangat dalam
harimu. Lantas ia seharusnya tetap selalu begitu.
Ia begitu
mandiri dengan cahayanya, kau tak ingin bertanya kepadanya bahwa tak ada
sedikit sapa untuknya. Ia sendiri tak seperti halnya bulan dan bintang yang selalu
ku dengar dialognya tiap petang.
Yang ia tau hanya bersinar tanpa ia
tahu sinarnya sering mendapatkan cemooh mereka.
Bersinar dan bersinar entah itu sejak
kristal embun diujung daun atau hingga pekatnya warna langit.
Tak mengerti,
tak tahu, atau pun tak sama sekalli paham kapan ia berkata lelah melalui dua
belah bibir semesta.
Tuhan selalu Maha dalam segala hal.
Menghadirkan mentari setangguh itu.
Menciptakan kamu sedingin kutub dunia..
Apa kau
mengenal senja? Apa kau tau mengapa senja itu ada? Senja itu mentari dibalik peraduannya, senja itu lambang kerinduan,
senja itu semanis warnanya.. Senja ada karna ada ribuan malaikat menarikan
jingga dicakrawala. Hanya itu tertanggap dalam imajinasiku.
Mentari akan
selalu setia pada pagi. Mentari dari awal telah berjodoh dengan pagi. Sedangkan
aku, aku tak sesetia mentari. Yang ku tahu, takdir mengajakku berkeliling
menjamah tempat yang tepat untuk kutinggali. Salahkah aku jika aku membiarkan
diri terbang bersama takdir? Aku hanya ingin, dimana kelak takdir lelah
mengajakku berkelana sendiri, dan aku tiba pada tempat terbaik. Kembali ke
pemilik lelaki (tertulis pada lauhul mahfudz) yang telah kehilangan tulang
rusuknya (AKU yang hilang) dan menyambutku dengan peluk kerinduan yang dalam.
ps : maaf banyak alur yang tidak jelas :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar