Jujur saja kukatakan, aku tak
benar-benar menyerah pada hubungan yang pernah ku jalani. Senyatanya aku ini
takut mencintai yang bukan milikku seutuhnya dan tak mampu menyenangkan lagi
dan aku ini pencemburu. Bukankah cemburu itu wajar? Iya wajar jika itu cukup
dan tak melebihkan. Aku terlalu cemburu, aku takut jika ada hari yang seharusnya
begitu indah jadi hari yang penuh makian dariku. Tapi aku selama ini cukup
hebat untuk mengemasnya jadi tawa. Kamu benar, aku memang tak pernah bisa mengatakan
apa yang sebenarnya aku rasakan. Dan kamu juga benar, bahwa aku tak bisa
menghargai diri sendiri.
Dari pernyataanmu, aku terlihat
begitu menyedihkan, aku tak bisa menunjukkan siapa sejatinya aku,
memperlihatkan apa yang sebenarnya aku inginkan, dan aku terlalu takut untuk
memperjuangkan.
Faktanya memang begitu, aku sama
sekali tidak ingin menyanggahya. Tapi akan ku perjelas singkatnya aku nanti.
Sebelum itu, aku ingin membahas
tentang tulisan di blogmu. Tentang sebuah mimpi, antara keberanian dan
ketakutan untuk bermimpi. Bermimpi yang kamu maksud itu adalah sebuah hal kita
inginkan –
Disini, saya ingin mengatakan
sesuatu bahwa kita sebenaranya tidak takut bermimpi, kita hanya takut ketika
bermimpi kita akan berharap, berharap hingga kita takut tidak mampu melakukan
apa-apa, tetapi meskipun kita berusaha menjadikan nyata tapi kita akan takut
pada keputus asaan. Mungkin ketika kegagalan itu terjadi sekali, itu tidak begitu
mengerikan, tapi ketika apa yang kita lakukan dan gagal berkali-kali dan kita
telah menghabiskan waktu untuk mencoba mimpi yang tidak Tuhan ciptakan, ya
jawab sendirilah -.
Kaitannya dengan mimpi, aku orang
tidak takut untuk bermimpi, aku hanya takut menyia-yiakan waktu dengan berdiam
diri dalam waktu yang lama. Aku sekarang mencoba mengisi geming kehampaan tanpa
seseorang dengan menulis-merenung-berpergian dengan teman-entahlah aku hanya
berusaha mencari kesibukan, ya kesendirian memang tidak terlalu menyedihkan
tapi yang menyedihkan ketika disela-sela waktu terkadang kesepian membekam
disaat itu pula kau sama sekali tak berbeda dengan seseorang tak bernyawa. Tak
jarang pada akhir kegiataku aku benar-benar merasa hampa dalam ruang
kesendirianku. Tak peduli, terdengar sayup kepedihan didalamnya, aku ‘masih’bisa
tegar. Aku takkan ingin menjerit seolah-olah aku yang paling terluka. Aku
berdiri meski aku tak memiliki tumpangan untuk menopang. Aku akan mengais-ais
kebahagian dengan berbagai cara tadi untuk mencukupi tingkat normal hidupku.
Sederhana namun tak selalu sederhana. Lelah kadang juga tak selalu melelahkan.
Berusaha tapi tak jarang asa begitu saja terputus. Aku sebenarnya tak ingin
membelit nafasku tiap masalah menggoda,
namun aku sering kali menghela nafas begitu berat sebagai tanda.
Seandainya saja nyata selalu semudah
bermimpi, segampang ucap, dan tak sesulit mengedipkan mata..
Maka aku akan mengelak
keberuntungan.. Tapi Tuhan yang memiliki cara.
Tentang aku yang pernah mengatakan
apa yang aku rasakan, begini ..
Apa orang sepertiku pantaskah
untuk berduka, menjerit sejeritnya? Apakah dari kesedihanku akan datang iba
atau peduli yang benar benar peduli?
Apakah kesedihanku akan mengundang rasa tertarik atau sebaliknya;
pengabaian? Karna aku merasa, aku ini orang yang didefinisikan orang garing.
Ngucap saja terlampau garing apalagi diam mungkin garing kubik. Yeaaaah. Aku
tak pernah merasa lebih baik ketika harus membagi duka yang mungkin juga hatinya
lelah. Membaginya dengan yang sedang bahagia? Aku tak mungkin merusak moodnya
yang sedang membaik, lagi pula orang yang sedang bahagia cendrung gimana gitu
-. Dan yang lebih baik ku lakukan adalah mendengar walaupun jarang untuk
merespon.
O ya, tentang aku si pencemburu,
aku takut kelak aku menjadi monster yang memenjarakanmu. Karna kau bukanlah
orang yang pantas untuk diabaikan meskipun kau melakukan hal yang banyak tak
menghubungkan aku denganmu. Sebaliknya akupun begitu, aku tak ingin diabaikan,
diacuhkan, bahkan tak dianggap.
Setulusnya, aku perempuan yang
ingin menjadi satu-satu yang dimiliki olehmu, satu-satunya perempuan yang kau bunuh
kesepiannya, hanya satu-satunya perempuan yang kau lihat dengan tersenyum
ketika ia memakimu, perempuan yang satu-satunya kau jadikan pangkuannya untuk
tertidur sambil memainkan anak rambutmu hingga terlelap, satu-satunya perempuan
yang mendapat ucapan selamat pagi darimu, satu-satunya perempuan yang menjadi tempat melepaskan
kekecewaan, kesedihan, kesenangan, dan berbagai emosi lainnya, dan satu-satunya
perempuan yang akan berdiri dibelakang ketika ‘kita’ bersujud menghadapNya. Tapi
ini sudah terlambat, aku telah dulu menyerah J
Semua telah kukatakan, lalu apa
yang ingin kamu katakan tentang ketidak tegasan dan ketakutan dalam dirimu? Aku
ingin selalu bertanya..
Dari
seseorang yang merindukanmu,
Aku yang pernah menjadi perempuanmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar