Senin, 13 Januari 2014

Mungkin aku takkan terlalu mengkhawatirkan RINDU

ada radar yang mendeteksi tiap-tiap hal-hal yang tersirat :*


Seandainya saja, aku selalu bisa menikmati lengkuk wajah kekesalan itu, dan aku tak benar-benar ingin kehilangan..



Pukul 06.45 , petang yang telah berpulang, dan disambut oleh kabut pagi di tempat biasa 'kita', aku melihat sosokmu. Walaupun aku tau kau berdiam disana lebih awal tapi aku memperlambat kakiku untuk menggayuh sepeda, hanya untuk mendengar cacimu nanti . Haha. Aku masih menyukai caramu, menggerutu karena keterlambatanku, kau tampak lebih menarik ketika kau seperti itu. Aku menyita ponsel dari kantongku, seperti dugaanku, itu pesan darimu.


R : Mana?
N : Uda di UD ini :D
R : Mananya? Saya ditempat biasa nih.
N : Mana ayoq ?

Di ujung jalan sana, aku melihatmu menggandeng mesra sepeda fixie putih roda berwarna pink, berjalan dengan raut wajah kesal, haha. Aku tak benarbenar ingin kehilangan, aku masih ingin menikmatinya.

....
Waktu tak yang  menunjukkan bahwa kita sedang dipeluk gelisah.... Gelisah yang berkecamuk, memendam rasa hingga mengharu biru.

Setelah berjalan memutari rute yang sudah ada, 'kita' duduk sembari menyapa lelah walaupun sebenarnya tak benar-benar lelah. Kau menawariku susu kedelai, yang telah lama membuat ecap penasaran mengeliat dalam benakmu . Aku sekali lagi menolak, karena memang aku tak minum susu pagi-pagi. Kau beranjak dari sampingku untuk membunuh rasa penasaranmu. Kau kembali duduk disampingku.. Kau minum susu, dan tiba-tiba kau tertawa sendiri karna kekonyolanmu. Tawa itu membuat aku jatuh cinta (lagi). Tak banyak dan tak ada percakapan begitu penting saat itu, seolah-olah tak ada yang perlu dibicangkan oleh hati 'kita'.

Kita kembali memutari jalan, berjalan diatas bebatuan, disana ada 3 anak yang sedang menikmati hari libur. Aku berbicara dengan mereka, dan kau telah memikat perhatian mereka dengan kharismamu haha.
Hello, i am Nia - Hai Nia, iam Rama-dan.
Hujan.. Menahan 'kita', menemukkan raga 'kita' namun tak menawarkan apa-apa selain rindu; kau disampingku.


Seandainya saja, kau masih dalam dekapku, mungkin aku takkan terlalu mengkhawatirkan RINDU ...


Meredanya hujan, mengakhiri temu hari ini. Aku dengan sepedaku dan kau dengan sepedamu mengantar 'kita' pada pesimpangan jalan akhir temu.

"Hati-hati, Nia", katamu. Dan kau tersenyum, membuat semesta cemburu dikala perhatianku terenggut seolah  tak ingin merasa usai menatap. Seandainya saja, aku pemilik senyum itu.

Melihat pundakmu perlahan menghilang. Menyadarkanku, bahwa aku lupa mengemas 'rindu' untuk kau bawa pulang.
Seharusnya rindu tahu kemana ia berpulang, kemana ia tertuju dan kemana ia melebur ~
Tak banyak aksara terucap tetapi kau memberikan kesempatan kepada milyaran rindu untuk mengusik pejam dan jagaku . TAPI Jika kau milikku, aku takkan sekhawatir ini mendekap rindu, karna di setiap kekhawatiranku, pasti mengharap temu (lagi). 

Tidak ada komentar: