Ini tulisan tahun 2018 bulan Februari tepatnya tanggal empat, ditulis dalam keadaan tak baik-baik saja. Seperti akhir-akhir ini.
Dengan ketinggian mimpimu, dengan rendahnya kemampuanku.
Tanpa melebih-lebihkan kau memang sudah jauh di atasku. Ku pikir kita ini adalah timbangan.
Segalanya akan sama. Setara. Serupa. Tak lebih seons apalagi sekilo.
Nyatanya aku pun, bukan 1 puzzle yang hilang dari 1000.
Aku hanya titik yang pudar dari lukisan itu, tapi sungguh tak ada akupun, tak merusak estetikanya.
Lukisan itu tetap berwarna, tak perlu warna putih karena canvasnya terbuat dari yang kertas netral.
Tak ada peran penting untuk melengkapi yang tak kurang, hanya terlanjur ada; jadi aku disimpannya.
Suaraku sumbang, tubuhku tak hangat, gerakkanku lambat, otakku kuno, wajahku halai balai dan emosiku yang terlalu bergeni-geni.
Itulah pantulan dari tatap matanya yang berbeda dengan binarnya tatapku. Bagiku, hidupnya terlalu mangkus sedang aku hanya manusia yang masygul.
Tak hanya pandanganku kepadanya seperti itu, syair-syair indah pun lahir dari penikmatnya.
Siapa sangka ia semenawan itu bagi banyak orang, dan dari mereka yang sebagian orang itu bilang, aku terlalu beruntung untuknya, sedang ia semalang itu berlabuh padaku.
Ternyata semelelahkan itu bagiku, untuk berusaha menjadi pantas untuknya.
Kenyataannya aku hanya matahari malam. Namaku hanya bayang, yang terdayuh menyaksikan bulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar