Kau bangun lebih pagi.
Aku lupa mengingatkanmu jika sepanjang jalan ku pagari kawat berduri.
Tahu-tahu kau pulang berdarah-darah.
Hangatku..
Sudah ku cabut pagar-pagar itu.
Kau bebas, kau angin.
Yang mencari mata angin.
Aku siapa saja. Apa saja.
Yang berharap kau riang atas siapa aku dan apa aku.
Aku bisa saja kini jadi langit.
Kau terbangkan. Mengantarku ke atas gunung.
Aku bisa jadi sebuah daun.
Kau jatuhkan di musim gugur.
Untung saja kau bukan nafasku.
Kau sudah dalam ruang balon-balon yang banyak.
Menahanmu di dalamnya, selamanya.
Sementara kau berusaha mencari celah kecil untuk keluar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar