Selasa, 29 Januari 2019

Jalan Menujumu Part II

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*


Semejak itu, aku memilih mencintai diriku sendiri dengan seeutuhnya-utuhnya rasa. Ku sayangi dirku, dengan apa yang tersisa dengan tersiksa.
Tak beberapa lama, rumahku terbangun di atas tanah yang hampa, tanpa bunga, dan jauh dari kota, Namun tak mengapa, selama aku merasa baik-baik saja. Aku bisa memulai dari awal, menghias langit yang kelabu, membuat taman bunga, lalu mengembangbiakkan rindu melalui sepi dan sendiri. Tak ada lagi, ku harapkan bintang jatuh mengabulkan doaku. Yang bisa ku biasakan adalah memasrahkan diri pada kehendak langit, menerima tiap cerah dan mendung yang datang tiba-tiba.
Selama-lamanya aku menahan diri, mengurung diri dari berharap bertemu denganmu lagi. Aku tak bisa jadi diriku yang baru. Karena aku, hanyalah aku yang ada untuk mengingatmu. Sebab aku, hanyalah aku yang keras kepala menungguimu.
Sampai suatu ketika, pagi sekali, sebelum matahari sempat mengintip malu di balik tirai putih jendelaku. Aku terbangun, kau tahu siapa yang paling ku cari pagi ini? Tentu saja kau. Di luar jendela terdengar ketuk rintik yang semakin lama semakin mesra, sepertinya semesta tahu kapan wajahmu diantar rindu. Aku meraih ponselku. Ku lihat di sana, tertera angka kembar yang lahir lebih dulu. Ku buka pola yang ku bentuk seperti huruf pertama namamu.
Gigil sempurna membangunkanku. Disisa kantuk, ku lihat ada sebuah pesan yang membuat mataku terbebelak dan membuat dadaku begitu berkecamuk. Pesan darimu, tepat dua jam yang lalu. Seperti biasanya, dulunya selalu berisi pengantar tidur yang merah jambu; manis dan candu disertai pesan kedua yang menanyakan kabarku. Kuusap mataku berkali-kali, seolah tak percaya pada apa yang tertera di layar. Seolah rasa kecewa menunggumu itu runtuh seketika, seolah-olah pesanmu memberi rasa panik yang menyenangkan. Lalu, harus ku balas apa agar esok kata-kataku mampu memberi hangat pada kakimu yang tak mampu ditenangkan selimut.
Satu jam berlalu, kantuk hanya sampai di mulutku, berkali-kali aku hanya menguap tak namun tak kunjung lelap karena sibuk membalas apa yang pantas pada tanyanya yang sekian lama hilang. Sepertinya rindu semakin kencang memutari langit-langit kamarku, tawa beberapa bulan yang lalu kembali terniang di telingaku, kemudian ku teringat wajah teduhmu, dini hari itu. Ingatanku kembali ke pertemuan terakhir kita. Ke malam yang membelah arah kepulangan kita. Kau kembali kesana, dan aku pulang ke sini. Tak banyak kata yang mengisyaratkan, namun binar mata hampir saja pecah sebagai tanda kita ingin lebih lama. Tak ada sepi, jika kita berdua, tak ada sunyi yang menabur luka jika bersama. Memang pertemuan yang tak disengaja selalu menetaskan perayaan yang nelangsa. Katamu, kau benci temu yang sementara, rindu yang tak mereda,  dan mengeja kata pisah.
Dua jam terlewati begitu saja, ingatan terus saja merdeka. Sepertinya isi kepala akan lembur bekerja, padahal merinduimu esok juga bisa. Tapi insomnia mana yang disebabkan rindu bisa dipaksa. Walau hujan ramai mengantar damai di pelupuk mata. Sebab merinduimu, tak bisa kulupa.  
Yang mereda bukan tak lagi memendam, yang tak memendam pastilah mereda. Dan aku bukanlah orang yang mudah lupa pada apa yang berharga.
Send.


Tidak ada komentar: