Semejak itu, aku memilih
mencintai diriku sendiri dengan seeutuhnya-utuhnya rasa. Ku sayangi dirku,
dengan apa yang tersisa dengan tersiksa.
Tak
beberapa lama, rumahku terbangun di atas tanah yang hampa, tanpa bunga, dan
jauh dari kota, Namun tak mengapa, selama aku merasa baik-baik saja. Aku bisa
memulai dari awal, menghias langit yang kelabu, membuat taman bunga, lalu
mengembangbiakkan rindu melalui sepi dan sendiri. Tak ada lagi, ku harapkan
bintang jatuh mengabulkan doaku. Yang bisa ku biasakan adalah memasrahkan diri
pada kehendak langit, menerima tiap cerah dan mendung yang datang tiba-tiba.
Selama-lamanya
aku menahan diri, mengurung diri dari berharap bertemu denganmu lagi. Aku tak
bisa jadi diriku yang baru. Karena aku, hanyalah aku yang ada untuk
mengingatmu. Sebab aku, hanyalah aku yang keras kepala menungguimu.
Sampai
suatu ketika, pagi sekali, sebelum matahari sempat mengintip malu di balik
tirai putih jendelaku. Aku terbangun, kau tahu siapa yang paling ku cari pagi
ini? Tentu saja kau. Di luar jendela terdengar ketuk rintik yang semakin lama
semakin mesra, sepertinya semesta tahu kapan wajahmu diantar rindu. Aku meraih
ponselku. Ku lihat di sana, tertera angka kembar yang lahir lebih dulu. Ku buka
pola yang ku bentuk seperti huruf pertama namamu.
Gigil
sempurna membangunkanku. Disisa kantuk, ku lihat ada sebuah pesan yang membuat
mataku terbebelak dan membuat dadaku begitu berkecamuk. Pesan darimu, tepat dua
jam yang lalu. Seperti biasanya, dulunya selalu berisi pengantar tidur yang
merah jambu; manis dan candu disertai pesan kedua yang menanyakan kabarku.
Kuusap mataku berkali-kali, seolah tak percaya pada apa yang tertera di layar.
Seolah rasa kecewa menunggumu itu runtuh seketika, seolah-olah pesanmu memberi rasa
panik yang menyenangkan. Lalu, harus ku balas apa agar esok kata-kataku mampu memberi
hangat pada kakimu yang tak mampu ditenangkan selimut.
Satu
jam berlalu, kantuk hanya sampai di mulutku, berkali-kali aku hanya menguap tak
namun tak kunjung lelap karena sibuk membalas apa yang pantas pada tanyanya
yang sekian lama hilang. Sepertinya rindu semakin kencang memutari
langit-langit kamarku, tawa beberapa bulan yang lalu kembali terniang di
telingaku, kemudian ku teringat wajah teduhmu, dini hari itu. Ingatanku kembali
ke pertemuan terakhir kita. Ke malam yang membelah arah kepulangan kita. Kau
kembali kesana, dan aku pulang ke sini. Tak banyak kata yang mengisyaratkan,
namun binar mata hampir saja pecah sebagai tanda kita ingin lebih lama. Tak ada
sepi, jika kita berdua, tak ada sunyi yang menabur luka jika bersama. Memang
pertemuan yang tak disengaja selalu menetaskan perayaan yang nelangsa. Katamu,
kau benci temu yang sementara, rindu yang tak mereda, dan mengeja kata pisah.
Dua
jam terlewati begitu saja, ingatan terus saja merdeka. Sepertinya isi kepala
akan lembur bekerja, padahal merinduimu esok juga bisa. Tapi insomnia mana yang
disebabkan rindu bisa dipaksa. Walau hujan ramai mengantar damai di pelupuk
mata. Sebab merinduimu, tak bisa kulupa.
Yang
mereda bukan tak lagi memendam, yang tak memendam pastilah mereda. Dan aku
bukanlah orang yang mudah lupa pada apa yang berharga.
Send.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar