Aku
hanya ingin berhenti bicara, bukan karena marah. Tapi karena sudah saatnya
lelahku ini, ku dengarkan. Setelah sekian lama ku pikir langkahku akan segera
sampai, ternyata takdir tak membawaku kemana-mana. Aku hanya berjalan memutari
angan-anganku sendiri, angan-angan yang tak pernah menjadi anganmu. Akupun tak
mengerti mengapa aku betah untuk berjalan seperti ini. Walaupun aku telah
memastikan tujunya ialah kamu, tetap saja aku tak mengira kau takkan berdiri di
sana untuk menyambut kedatanganku. Aku sudah berpikir betapa riangnya aku, jika
dilangkah-langkah terakhirku yang gontai kau berlari menangkapku. Tapi
kenyataannya tak semanis isi kepala. Alih-alih kau akan membopong lelahnya
tubuhku, suara kaki yang ku harap akan menghampiri dengan berlari-lari itu
hanyalah fana.
Selama
perjalanan, banyak mata yang merasa iba atas keadaan dan keberadaanku. Tak
sedikit pula yang mengulurkan tangannya. Entah mengapa aku tak suka dan
menepisnya, menolak bantuan yang ku pikir aku yang tak membutuhkannya sama
sekali. Aku bisa, kukatakan berkali-kali kepada mereka, aku tak lemah, aku tak menginginkan
pertolongan apapun. Sekalipun dalam keadaan tak mampu, aku memilih untuk tak
menerima apapun dari orang-orang yang mengasihaniku.
Semanis-manis penawaran mereka untukku, aku dengan tegas
menolaknya dengan kesal. Memang aku sudah terlihat seperti apa di mata mereka.
Aku memang gelandangan tapi apa mereka tak melihat hartaku? Rindu yang
menggembungkan tas ranselku, yang ku tabung sekian lamanya untuk ku hadiahkan
kelak bila bertemu denganmu. Sampai pada saatnya, orang-orang yang mengasihaniku
menjadi orang-orang yang mengabaikanku karena sikapku yang terlalu arogan. Tapi
akupun tak peduli, ada atau tak adanya mereka, tak merubah apapun yang ada pada
diriku. Ku berjalan, berjalan kemana saja, hingga ku temukan petunjuk mengarahkanku
padamu. Sekian lama berjalan, seperti awal. Aku tak menemukan apa-apa, entah
kabarmu ataupun batang tubuhmu. Tak keduanya. Aku berhenti sejenak, mengulurkan
kedua kakiku, merebahkan tubuhku di atas tanah kering yang tak bertuan. Aku
ingin terlelap, maka ku pejamkan mata. Namun tak kunjung kantuk sampai di
mataku yang terkatup. Aku terus memikirkanmu, sampai khayalku tertuju pada
wajahmu yang menyenangkan. Aku tersenyum tapi sesak tak terbantahkan, sesak
yang membela diri menjadi sepi. Aku sendiri, tak ada yang perlu tahu betapa
menyedihkannya semua ini; jatuh dan jatuh lagi rindu dari mataku yang terpejam.
Ku punguti satu-persatu, ku simpan dalam tas ransel kumuh milikku, tak satupun
kubiarkan tercecer begitu saja. Agar kau tahu sebanyak ada apa aku merindukan
keberadaanmu.
Sepertinya
aku sudah tak mampu berdiri, sudah tak kuasa melanjutkan langkah. Apa aku harus
berhenti dimanapun ini, entah tempatku ini sudah tak jauh dari tempatmu atau
masih separuh jalan menuju kediamanmu ataupun mungkin aku masih di tempat yang
sama, tak kemana-mana.
Aku
tak tahu dimana keberadaanku, aku tak mengenal tempat-tempat menyedikan ini. Ku
pikir aku harus berhenti sudah, menemukanmu bukan lagi satu-satunya inginku.
Harapku bersamamu saat ini sudah menitis seiring waktu. Aku lupa akan diriku
yang berharga. Aku lupa jalan ini terlalu panjang untuk kutempuh dengan tubuhku
yang ringkih. Terlebih dahulu, aku ingin merawat diriku, mengatasi insomniaku, menenangkan
asam lambungku, meredakan migran yang mengusik hari-hariku. Aku tak ingat,
sebelum menemukanmu aku harus dalam keadaan hebat. Mempersiapkan diri, bila
pada akhirnya aku menemukanmu, kau tak lagi sendiri. Aku akan kuat pergi. Maka
aku harus menyiapkan banyak hal untuk diriku, menghadiahkan ha-hal manis,
secangkir coklat panas, roti bakar isi keju dan bantal empuk nan wangi untuk
mendatang mimpi-mimpi indah.
..bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar