Ya
bukan apa-apa, aku hanya tak pernah merasa mati, kecuali merasa kesemutan
sekaki saja pernah. Aku masih bisa hidup, yang jelas aku masih bertahan hidup
atas izin Tuhan tentunya. Aku mungkin selama ini pernah mencintai seseorang
dengan gilanya. Tanpa sadar, aku kehilangan diriku, kehilangan warasku,
kehilangan rasa cinta akan diriku sendiri. Seberapa jauh aku lupa bahwa yang
kubutuhkan adalah diriku sendiri? Jauh sekali sampai ku lihat sendiri, kaki
yang ku kira masih bisa berjalan dengan benar, tenyata yang tersisa hanya
tangan yang mampu membantu kakiku yang terseok. Dan akhirnya aku berhenti
melangkah, dengan apa yang tersisa aku mulai menulis tentang luka. Luka yang
meninggalkan parah di kepala dan rasa aduh di dada. Itu semua karena aku
terlalu memaksakan rasa inginku yang berlebih. Padahal Tuhan tak mengizinkanku
melintas keluar dari garis merah larangannya. Hingga apa yang ku dapati? Luka.
Lupa yang penuh sayatan. Apa yang terbuang? Waktu. Waktu yang panjang hanya
untuk merasa dungu.
Yang
terjadi mana mungkin bisa kita mengubah tiap kesalahanya, melainkan apa yang
tersisa. Kita hanya berkesempatan menatanya, menyusunnya, lalu menjaganya
dengan benar-benar melangkah. Tapi siapa yang akan mengira, kita akan selalu
mampu menjaga diri, tak lagi lalai merawat isi hati, dan siapa juga yang akan
berpikir mampu menghalangi tiap sayatan sepi yang melayang di kala sendiri. Nyaris
tajamnya tak pernah meleset ke kanan atau ke kiri.
Hampir
tak terhitung lagi berapa lembar karangan fiksiku, yang selalu menjadikannya ia
tokoh utama dalam cerita. Semakin lama, tulisanku bernyali menghidupkannya
seperti nyata. Ia seperti laki-laki biasa, punya ganjil tapi nyaris tak
terlihat. Sayang, semua tak sesempurna cerita fiksi seperti biasa, Tuhan turut
serta dalam menentukan apa yang ku butuhkan dalam cerita ini.
Entah
terkabul atau tidak, aku tak hanya pernah berdoa mengusul namanya sebagai
partner mencari restu tapi aku masih meminta dia kepadaNya. Masih, sampai hari
ini. Bahkan ketika ku sadar, aku tertinggal sendiri. Jauh menuju surgaNya, aku
hanya gelandangan yang butuh rumah, hangatnya peluk dan kenyang rasa tawa lalu
ingin dibimbingnya.
Nyaris
aku tak lagi mampu bertahan, sedikit lagi merasa kehilangan. Diantara napas
paling sesak, hiruk pikuk paling sepi, aku tak lupa jika malam-malam aku selalu
menahan diri dari rindu yang bernapaskan jarak. Seringkali aku menanyakan diri,
sudah seberapa jauh, sudah seberapa kuat langkahnya, sudah setangguh apa ia,
sudah semerona apa pipinya karena suka cita, hingga di ujung jalan pun ia sudah
tak tertangkap mataku. Hanya yang tersisa gelak tawanya yang menggema di
langit-langit kamar. Aku tak ingin ia bahagia tanpaku, tapi hatiku lebih kecut
lagi jika senjanya tak semerona minggu pertama aku dengannya.
Aku tak
tahu esok, terserah esok bagaimana. Aku sudah tiada dihatinya atau ia sudah tak
lagi menggetarkan hatiku dengan tawanya. Entahlah tentang esok. Entah ia
bahagia karena telah sadar, satu yang pernah menjadi bahagianya adalah seseorang
yang tak berguna. Entah karena dia sudah lebih dulu merelakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar