Minggu, 04 Februari 2018

Lebih dulu merelakan.

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*

Ya bukan apa-apa, aku hanya tak pernah merasa mati, kecuali merasa kesemutan sekaki saja pernah. Aku masih bisa hidup, yang jelas aku masih bertahan hidup atas izin Tuhan tentunya. Aku mungkin selama ini pernah mencintai seseorang dengan gilanya. Tanpa sadar, aku kehilangan diriku, kehilangan warasku, kehilangan rasa cinta akan diriku sendiri. Seberapa jauh aku lupa bahwa yang kubutuhkan adalah diriku sendiri? Jauh sekali sampai ku lihat sendiri, kaki yang ku kira masih bisa berjalan dengan benar, tenyata yang tersisa hanya tangan yang mampu membantu kakiku yang terseok. Dan akhirnya aku berhenti melangkah, dengan apa yang tersisa aku mulai menulis tentang luka. Luka yang meninggalkan parah di kepala dan rasa aduh di dada. Itu semua karena aku terlalu memaksakan rasa inginku yang berlebih. Padahal Tuhan tak mengizinkanku melintas keluar dari garis merah larangannya. Hingga apa yang ku dapati? Luka. Lupa yang penuh sayatan. Apa yang terbuang? Waktu. Waktu yang panjang hanya untuk merasa dungu.
Yang terjadi mana mungkin bisa kita mengubah tiap kesalahanya, melainkan apa yang tersisa. Kita hanya berkesempatan menatanya, menyusunnya, lalu menjaganya dengan benar-benar melangkah. Tapi siapa yang akan mengira, kita akan selalu mampu menjaga diri, tak lagi lalai merawat isi hati, dan siapa juga yang akan berpikir mampu menghalangi tiap sayatan sepi yang melayang di kala sendiri. Nyaris tajamnya tak pernah meleset ke kanan atau ke kiri.
Hampir tak terhitung lagi berapa lembar karangan fiksiku, yang selalu menjadikannya ia tokoh utama dalam cerita. Semakin lama, tulisanku bernyali menghidupkannya seperti nyata. Ia seperti laki-laki biasa, punya ganjil tapi nyaris tak terlihat. Sayang, semua tak sesempurna cerita fiksi seperti biasa, Tuhan turut serta dalam menentukan apa yang ku butuhkan dalam cerita ini.

Entah terkabul atau tidak, aku tak hanya pernah berdoa mengusul namanya sebagai partner mencari restu tapi aku masih meminta dia kepadaNya. Masih, sampai hari ini. Bahkan ketika ku sadar, aku tertinggal sendiri. Jauh menuju surgaNya, aku hanya gelandangan yang butuh rumah, hangatnya peluk dan kenyang rasa tawa lalu ingin dibimbingnya.
Nyaris aku tak lagi mampu bertahan, sedikit lagi merasa kehilangan. Diantara napas paling sesak, hiruk pikuk paling sepi, aku tak lupa jika malam-malam aku selalu menahan diri dari rindu yang bernapaskan jarak. Seringkali aku menanyakan diri, sudah seberapa jauh, sudah seberapa kuat langkahnya, sudah setangguh apa ia, sudah semerona apa pipinya karena suka cita, hingga di ujung jalan pun ia sudah tak tertangkap mataku. Hanya yang tersisa gelak tawanya yang menggema di langit-langit kamar. Aku tak ingin ia bahagia tanpaku, tapi hatiku lebih kecut lagi jika senjanya tak semerona minggu pertama aku dengannya.
Aku tak tahu esok, terserah esok bagaimana. Aku sudah tiada dihatinya atau ia sudah tak lagi menggetarkan hatiku dengan tawanya. Entahlah tentang esok. Entah ia bahagia karena telah sadar, satu yang pernah menjadi bahagianya adalah seseorang yang tak berguna. Entah karena dia sudah lebih dulu merelakan.

 

Tidak ada komentar: