Bagaimana
bisa rinduku hanya kau jadikan setumpuk buku yang kau baca begitu saja?
Bagaimana
bisa rinduku hanya menjadi setumpuk baris tanpa makna?
Bagaimana
kau bisa bertahan hidup melihat ribuan rinduku mati di hadapanmu dengan membawa
namaku?
Bagaimana
bisa kau teramat tegak dengan diammu setelah kau melihat rindu terserak di
depan matamu?
Aku tak
mengerti lagi, haruskah rinduku lahir lagi dan kembali gugur tanpa sebuah bekas
hanya untuk kau tahu bahwa ia datang.
Aku tak
lagi mengerti, bagaimana ini semua hanya terjadi padaku. Aku tak mengerti
sebagaimana keras untuk ku mengerti.
Lalu
kau tiba-tiba dating menanyakan apa kau boleh bersenda gurau denganku. Untuk
apa senda gurau yang kau tawarkan itu? Untuk apa semua candaan yang tak akan berujung
aku?
Kau
berkali-kali hadir menanyakan kabarku, apa kau pikir aku akan baik-baik saja
setelah itu? Setelah kau melepaskan apa yang pernah ada dalam genggammu dan
memaksa yang ku genggam dengan mudah ku lepaskan juga?
Mungkin
senda gurau yang kau tawarkan, hanya membuatku bingung untuk melangkah kemana.
Kau
tawarkanku pada yang lain, sebegitu mudahnyakah aku untuk dimiliki, sebegitu
mudahnyakah aku untuk kembali jatuh dan memulai semua tanpa terluka?
Kau
pikir, dengan mudahnya aku menirumu untuk melupakanku?
Kau
pikir, ketika aku membuka mata kau sudah lenyap begitu saja seperti kau
melenyapkanku pada kesenanganmu yang lain?
Tapi
sudahlah, aku berteriak menanyakanmu disini, tiadalah berguna. Aku hanya
terluka sendiri, aku hanya menginjak pecahanku lagi. Aku takkan sembuh, takkan
pulih dengan semua tanya yang tak memiliki jawab.
Namun ini rasa sakitku, ini rindu dan semua
harapku. Ini milikku, tak ingin lagi aku mengajakmu pada harapan yang kau
anggap salah. Aku takkan lagi mengajak kesalahanku ini untuk menyalahankanmu.
Ini rasaku, akulah yang bertanggung jawab untuk menunggunya tiadanya karena aku
tak kuasa lagi menghidupinyanya sendiri.
Biar
kelak setelah tiada, yang tersisanya hanyalah debu-debunya saja, biar ku sentuh
debunya yang lembut lalu dalam pejam, aku mengingatmu sekali lagi. Biarlah ini
menjadi perkara ingatanku, entah bagaimana ingatanku setelah itu, akupun
bertanya. Namun belum bisa ku pastikankan, rinduku takkan lagi menjadi mimpi
burukmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar