Minggu, 04 Februari 2018

Di sini.

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*



Bagaimana bisa rinduku hanya kau jadikan setumpuk buku yang kau baca begitu saja?
Bagaimana bisa rinduku hanya menjadi setumpuk baris tanpa makna?
Bagaimana kau bisa bertahan hidup melihat ribuan rinduku mati di hadapanmu dengan membawa namaku?
Bagaimana bisa kau teramat tegak dengan diammu setelah kau melihat rindu terserak di depan matamu?
Aku tak mengerti lagi, haruskah rinduku lahir lagi dan kembali gugur tanpa sebuah bekas hanya untuk kau tahu bahwa ia datang.
Aku tak lagi mengerti, bagaimana ini semua hanya terjadi padaku. Aku tak mengerti sebagaimana keras untuk ku mengerti.
Lalu kau tiba-tiba dating menanyakan apa kau boleh bersenda gurau denganku. Untuk apa senda gurau yang kau tawarkan itu? Untuk apa semua candaan yang tak akan berujung aku?
Kau berkali-kali hadir menanyakan kabarku, apa kau pikir aku akan baik-baik saja setelah itu? Setelah kau melepaskan apa yang pernah ada dalam genggammu dan memaksa yang ku genggam dengan mudah ku lepaskan juga?
Mungkin senda gurau yang kau tawarkan, hanya membuatku bingung untuk melangkah kemana.
Kau tawarkanku pada yang lain, sebegitu mudahnyakah aku untuk dimiliki, sebegitu mudahnyakah aku untuk kembali jatuh dan memulai semua tanpa terluka?
Kau pikir, dengan mudahnya aku menirumu untuk melupakanku?
Kau pikir, ketika aku membuka mata kau sudah lenyap begitu saja seperti kau melenyapkanku pada kesenanganmu yang lain?
Tapi sudahlah, aku berteriak menanyakanmu disini, tiadalah berguna. Aku hanya terluka sendiri, aku hanya menginjak pecahanku lagi. Aku takkan sembuh, takkan pulih dengan semua tanya yang tak memiliki jawab.
 Namun ini rasa sakitku, ini rindu dan semua harapku. Ini milikku, tak ingin lagi aku mengajakmu pada harapan yang kau anggap salah. Aku takkan lagi mengajak kesalahanku ini untuk menyalahankanmu. Ini rasaku, akulah yang bertanggung jawab untuk menunggunya tiadanya karena aku tak kuasa lagi menghidupinyanya sendiri.
Biar kelak setelah tiada, yang tersisanya hanyalah debu-debunya saja, biar ku sentuh debunya yang lembut lalu dalam pejam, aku mengingatmu sekali lagi. Biarlah ini menjadi perkara ingatanku, entah bagaimana ingatanku setelah itu, akupun bertanya. Namun belum bisa ku pastikankan, rinduku takkan lagi menjadi mimpi burukmu.
 

Tidak ada komentar: