Sabtu, 17 Maret 2018

Berhenti.

ada radar yang mendeteksi tiap hal-hal yang tersirat :*



Aku ingin sekali berhenti merasa luka di sini, berhenti mengingatmu, berhenti pula menitikkan air mata di bajuku. Aku ingin mengusaikan apa yang belum usai di dadaku sampai hari ini. Sekeras apapun ku coba untuk berhenti, aku hanya terus terjatuh, jatuh lagi dalam ingatan. Sekeras apapun aku ingin hentikan, sekeras itu pula aku akan memar dan terpental. Sesekali aku menyerah, memilih diam tak peduli pada apa yang tak bisa ku ku diamkan. Maka ku biarlah jatuh sesukanya, semuanya bila perlu hingga habis. Agar tak ada lagi yang tumpah.
Ku biarkan, ku tenangkan dadaku yang sesak, sampai Tuhan mengasihaniku, sampai Tuhan mengusap kepalaku, sampai Tuhan menjawab doaku. Sampai ku tahu semua, untuk apa dan bagaimana akhirnya. Namun aku tak jua mendapatkan jawaban dari semua tanyaku, mungkin aku berusaha, mungkin aku harus belajar luka lagi, mungkin aku harus lebih tabah lagi.
Tuhan tahu bagaimana hatiku meronta saat rindu mencabik dadaku dan tak mampu ku meneriakimu pecundang, pecundang yang pergi semaunya. Jika masuk akal, aku ingin sekali menamparmu, setelah kau melupakan apa yang telah terjadi selama ini, setelah ribuan kenang di kepalaku dan hanya kau rasa seperti sedetik pertemuaan dua orang asing bagimu.
Dan terlupa begitu mudah.
Aku ingin sekali mengiklaskan sesuatu, mengatakan padanya bahwa hatiku tak lagi mengikat namanya. Aku ingin namanya menjadi sejarah seperti pahlawan yang gugur setelah berjuang begitu keras namun tak sempat merayakan kemerdekaannya. Aku ingin sekali berdamai dengannya walau ribuan kecamuk bertikai menolak jabat tangannya. Apa yang bisa kulakukan, selain tahu diri untuk diam tak bergeming walaupun ingin sekali rasanya aku mengetahui kabarnya. Tak mudah berjalan sendiri, ketika telah terbiasa berjalan beriringan. Tak mudah setiap malamnya dipenuhi gelak tawa yang ramai lalu tiba-tiba dihadapkan oleh isak yang hening.
“jangan membenci, sekalipun hatimu kesal mendengarnya terlalu riang setelah pergi, sedang kau ditinggal bersama kesedihannya.”
Berkali-kali ku yakini hatiku, saat aku mulai jengah dengan kesendirian. Ku katakan berkali-kali pada diriku; Tak apa, rindu. Rindu membuat kita lebih manusiawi. Selebihnya jangan lebih dan tahu tempatnya membumi.
Aku bukan lagi anak kecil yang pandai meniru, meniru caramu melupakan.


Tidak ada komentar: