Aku ingin sekali berhenti merasa luka di
sini, berhenti mengingatmu, berhenti pula menitikkan air mata di bajuku. Aku
ingin mengusaikan apa yang belum usai di dadaku sampai hari ini. Sekeras apapun
ku coba untuk berhenti, aku hanya terus terjatuh, jatuh lagi dalam ingatan.
Sekeras apapun aku ingin hentikan, sekeras itu pula aku akan memar dan
terpental. Sesekali aku menyerah, memilih diam tak peduli pada apa yang tak
bisa ku ku diamkan. Maka ku biarlah jatuh sesukanya, semuanya bila perlu hingga
habis. Agar tak ada lagi yang tumpah.
Ku biarkan, ku tenangkan dadaku yang sesak,
sampai Tuhan mengasihaniku, sampai Tuhan mengusap kepalaku, sampai Tuhan
menjawab doaku. Sampai ku tahu semua, untuk apa dan bagaimana akhirnya. Namun
aku tak jua mendapatkan jawaban dari semua tanyaku, mungkin aku berusaha, mungkin
aku harus belajar luka lagi, mungkin aku harus lebih tabah lagi.
Tuhan tahu bagaimana hatiku meronta saat rindu
mencabik dadaku dan tak mampu ku meneriakimu pecundang, pecundang yang pergi semaunya.
Jika masuk akal, aku ingin sekali menamparmu, setelah kau melupakan apa yang
telah terjadi selama ini, setelah ribuan kenang di kepalaku dan hanya kau rasa
seperti sedetik pertemuaan dua orang asing bagimu.
Dan
terlupa begitu mudah.
Aku
ingin sekali mengiklaskan sesuatu, mengatakan padanya bahwa hatiku tak lagi
mengikat namanya. Aku ingin namanya menjadi sejarah seperti pahlawan yang gugur
setelah berjuang begitu keras namun tak sempat merayakan kemerdekaannya. Aku
ingin sekali berdamai dengannya walau ribuan kecamuk bertikai menolak jabat
tangannya. Apa yang bisa kulakukan, selain tahu diri untuk diam tak bergeming
walaupun ingin sekali rasanya aku mengetahui kabarnya. Tak mudah berjalan
sendiri, ketika telah terbiasa berjalan beriringan. Tak mudah setiap malamnya
dipenuhi gelak tawa yang ramai lalu tiba-tiba dihadapkan oleh isak yang hening.
“jangan membenci, sekalipun hatimu kesal mendengarnya terlalu riang setelah pergi, sedang kau ditinggal bersama kesedihannya.”
Berkali-kali
ku yakini hatiku, saat aku mulai jengah dengan kesendirian. Ku katakan
berkali-kali pada diriku; Tak apa, rindu. Rindu membuat kita lebih manusiawi.
Selebihnya jangan lebih dan tahu tempatnya membumi.
Aku
bukan lagi anak kecil yang pandai meniru, meniru caramu melupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar