Aku tak pernah berpikir pada awalnya, kekuranganmu itu ada.
Di kepalaku, perjalanan kita kedepannya akan baik baik saja, denganmu yang awalnya ku kenali sebagai laki-laki berpredikat baik pada namanya.
Mungkin aku berdosa telah mendahului Tuhanku dengan memprediksi jalan hidupku sendiri.
Hingga tak lama, Tuhan menunjukkan bahwa aku ini tak lebih kuasa darinya.
Kakiku penuh darah, dadaku penuh luka. Isi kepalaku penuh curiga. Aku akhirnya menangis.
Karenamu.
Salahmupun tentunya.
Ah apa kau ingin bilang ini juga salahku? Merelakan diri mempercayaimu seutuhnya.
Melalaikan diri, membiarkan hatimu melenggang pergi tanpa pamit kemana mana.
Begitulah manismu, hingga kini...
Iya mungkin sebagian kesalahanmu adalah kesalahanku juga waktu itu. Akan selalu ada kesempatan mencintai lagi, karena keinginan menjadi lebih baik dan ketidakmampuan tidak adanya kita.
Walau ku pikir mungkin bagimu saat itu menemukan pulang begitu sulit dalam rumahku. Tanpa berpikir apa kau sudah benar benar berjalan untuk pulang, aku dengan tabah menyiapkan kepulanganmu walau aku tak tahu bagaimana kamu saat itu.
Dan cerita kita belum berhenti pada luka, kau pulang tanpa pakaian, aku melugu, kau memeluk dengan isak. Katamu, telah kau tanggalkan bajumu lamamu dalam perjalanan pulang, kau membiarkan gigil menusuk tulang kau bilanh, kau berharap aku menyambutmu dengan hangat.
Cerita kita akan lengkap dengan luka. Cerita manis mana yang hanya isinya bahagia saja?
Kita akhirnya (sedang) belajar.
Kekurangan mengantarkan banyak kelebihan. Kau ingin memperbaiki, aku ingin dibenahi. Karena kita adalah suatu hal yang berantakan jika tidak ada aku atau kamu yang bersatu, kata kita tak pernah menjadi kata.
Coba katakan, luka mana yang tak menyakitkan? Semua luka memang temannya rasa sakit. Tapi bukan lantas kita bisa lekas sembuh jika sibuk berpikir itu kesalahan besar atau kecil, kesalahan yang nampak atau tidak nampak. Melainkan keinginan kita untuk menyembuhkan diri sendiri. Seberapa lama kita ingin berdarah-darah. Atau seberapa lama kita ingin merdeka dari rasa pedih yang terkutuk.
Coba jabarkan, kesedihan mana yang ingin kita ulangi? Kesedihan yang selain rindu, akan selalu ku usahakan untuk tidak kulakukan.
Hingga aku tahu, jalan tak selalu seperti yang kita tebak. Namun cerita cinta akan selalu menyenangkan jika berakhir bahagia. Walau yang dikatakan akhir hanyalah kematian.
Lelaki dengan wajah wajah menyenangkan. Dengan harapan, hatimu terjaga dengan baik, nadiku tak lagi memanjang hanya karna jarak. Aku ingin bersama menjadi kata manis dan doa diakhir tulisan ini.
Semoga Kita Bersama. 👦👧
Yawla serius banget bacanya 😂😂
Judulnya pun gak nyambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar